Repost from Baskoro Aris Binzed on LINE:
*Di suatu grup media sosial*
A: "HBD Diana..."
B: "HBD Diana..."
C: "HBD Diana..."
*Sampai Z*
Kemudian tiba kabar dua hari kemudian, "Teman-teman, ada kabar duka, innalillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun, Ayahanda teman kita Khalid meninggal dunia siang ini."
A: "Innaaalillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun. Turut berduka Khalid. Yang kuat ya."
B: "Innaaalillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun. Turut berduka Khalid. Yang kuat ya."
C: "Innaaalillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun. Turut berduka Khalid. Yang kuat ya."
*Sampai Z*
Tentu mudah sebenarnya untuk menggerakkan jari, menekan kontak Diana dan menghaturkan selamat atas hari kelahiran. Sambil menyebutkan harapan-harapan untuk Diana lewat kolom percakapan. Tentu tanpa lupa benar-benar mendoakannya di lain kesempatan.
Mudah juga menggerakkan jari, menekan kontak Khalid untuk mengucapkan ucapan duka cita. Memberikan ucapan doa semoga amalan ayahanda diterima, kekurangan di dunia diampuni, dan memberikan sedikit himbauan untuk Khalid menjadi anak shalih agar menambah kebaikan bagi ayahanda di timbangan hari akhir kelak. Jika sempat turut menyalati hingga menguburkan.
Mudah saja setidaknya menggerakkan jari untuk tidak copy-paste dan tidak berlindung pada gumaman hati, "mending copas daripada tidak."
Tapi memang, menggerakkan hati untuk empati... itu yang susah.
Bisakah memulai memberikan kepedulian dengan cara yang memenuhi kepantasan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar